Monday, October 19, 2015

Antara Langit dan Samudra

Ini seperti aku sedang terjun ke lautan lepas, persis di tengah samudra.

Apa sih yang aku ingini sekarang? Bersenang senang menikmati ciptaan Tuhan, atau bunuh diri? Bukannya apa, konstelasi bintang memang bergerak indah di musim panas. Bahkan rasi biduk yang biasanya baru bisa ku nikmati menjelang pukul 9 malam, kini bertengger malu-malu di dekat jalan susu. Aku tidak perluh pergi ke Bosca sekedar untuk merasakan sensasi berenang di luar angkasa, aku cukup menguatkan hati untuk berani menatap dua bola matamu, dan aku menemukan seluruh dunia di sana.

Indah sekaligus menakutkan. Menyenangkan memang berlari kecil, sambil bermain air di tepi pantai. Tapi bagaimana jika ombak menyeretku ke lautan dalam? Aku tidak takut tenggelam, karena sekarang aku sadar tidak lagi di pinggir pantai berpasir, namun jurang tinggi yang sengaja aku datangi. Tidak ada warna biru laut. Hanya kekosongan tak berujung dari hitamnya air yang memantulkan bintang-bintang.

Kulitku sudah tersobek-sobek, bahkan sebelum aku menghantam karang. Apa lagi yang ditakutkan dari dinginnya angin kencang yang mengiris? Aku sudah cukup menyakiti diri sendiri dengan berada di dekatmu. Penyakit lain, seperti lelucon. Tangisku tak pecah karena cairan asam yang membakar lambung sudah naik ke lidah. Air mataku tak turun karena hentakan otot di kepala menekan saraf hingga pandanganku menghilang. Tapi mereka berdua menghianatiku saat aku menyadari yang terpatri di ujung cermin dunia itu bukan aku.

Buat apa aku membangun istana, kalau aku tak menyadari itu hanya pasir? Tak bisa aku bangga dengan nama yang terukir kalau kemudian mudah hilang tersapu ombak. Mungkin aku kaya akan waktu, makanya aku buang-buang hanya untuk sekedar melihat meteor-meteor berjatuhan menggores atsmosfer. Menikmati pendar ekor si bintang jatuh yang hanya sekejap dan menghilang. Aku banyak memanjatkan doa saat melihatnya. Tentang bagaimana caranya menyimpan indah bintang bintang tanpa harus membuatnya jatuh tergores baru keinginanku terkabul.

Untuk pertama kalinya aku tidak jatuh cinta karena melihatmu mencinta. Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta setelah sadar aku terbangun dan mendapati diri bahagia ada di waktu itu bersamamu. Tidak ada ocehan tentang pantai dan langit berbintang. Tidak ada larik indah tentang angin dan bintang jatuh. Hanya seperti itu aku jatuh cinta. Ketika setiap detik yang aku lalui di dekatmu adalah ketika aku memanjatkan doa pada Tuhan untuk membuatmu tetap berada di sisiku.

Walaupun luka ini perih karena air yang berjatuhan dari mataku, aku tetap berdiri di bibir jurang ini. Entah nanti aku akan jatuh, tenggelam, tersapu angin, atau mati kehabisan darah karena luka yang bertambah. Apapun, asalkan aku masih bisa berada lebih dekat dengan dunia yang ingin aku tinggali. Lebih lama memandang rasi biduk yang ingin aku abadikan bersama jalan susu yang membawaku pergi dalam doa yang kupanjatkan setiap hari.

Monday, September 28, 2015

Arlogi

Menunggu sudah seperti rima hidup yang sebulan belakangan ini ku lakoni. Aku sampai tidak tau bedanya itu dengan menghirup oksigen. Semua seolah berjalan melambat dan aku sendiri yang berlari maraton. Tanpa sadar kau tertinggal. Jadi ketika aku berhenti, menengok ke belakang sejenak, aku tersadar aku harus menunggu. Melakukan kegiatan yang sebenarnya dengan senang hati akan ku lakukan jika saja tidak ada yang namanya waktu.

Sadarkah kau berapa lama aku harus selalu menunggumu? Gerakanmu seolah adegan slow motion yang memaksaku dua kali lipat lebih sabar menanti akhir. Duduk di bangku yang sama, mengantisipasi bukan hanya penyakit lelet, tapi mungkin juga amnesia tiba-tiba bercongkol di kepalamu. Sekarang, aku tidak hanya menghitung kelopak bunga, tapi juga menghitung rumbai taplak meja, hingga domba-domba yang sekarang mulai melompat-lompat di depan mataku.

Aku bosan, hei kau koruptor waktu. Terlalu banyak saat yang aku habiskan untuk menyambut kedatanganmu yang monoton. Tidak ada tampilan istimewa dari kemeja biru tua yang kau pakai. Tidak ada lagi sesuatu yang berbeda dari cara berdirimu yang suka menumpuh di kaki kiri. Hanya aku bersyukur goresan senyum di wajahmu tidak ikut terkikis waktu yang terbuang.

Tidak ada kata atau pelukan minta maaf. Tidak perluh. Karena begini lah kita. Dua jarum yang baru bisa benar-benar bertemu setelah 12 jam memutar. Bertemu hanya di dua saat di satu hari yang panjang.